Penulis: Surip Prayugo, S.Pt, MM
Ramadhan mengajarkan kita menata hati, tetapi lonjakan harga telur dan daging yang berulang justru memaksa banyak keluarga menata ulang harapan di meja makan.
Ramadhan 1447 H telah tiba. Umat Muslim di Indonesia menyambutnya dengan suka cita. Di banyak sudut kampung dan kota, masjid kembali ramai, aroma takjil menguar di jalanan, dan keluarga-keluarga menata ulang waktu demi sahur dan berbuka bersama. Namun di balik suasana religius itu, masyarakat harus menghadapi kenyataan pahit: kebutuhan pokok di awal Ramadhan, termasuk daging dan telur, kembali mengalami lonjakan harga.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per 18 Februari 2026, harga telur ayam ras tercatat Rp 32.200 per kilogram, naik dari kisaran sebelumnya sekitar Rp 30.000 per kilogram pada akhir Januari 2026. Sementara daging ayam ras menembus Rp 43.100 per kilogram dari sebelumnya di kisaran Rp 40.000 per kilogram. Adapun daging sapi kualitas I mencapai Rp 146.000 per kilogram, meningkat dari posisi sebelumnya sekitar Rp 140.000 per kilogram.
Angka-angka ini penting, tetapi yang lebih penting adalah polanya. Kenaikan menjelang Ramadhan seolah sudah menjadi kebiasaan yang diterima begitu saja. Kita terlalu sering menutup persoalan dengan satu kata yang terdengar menenangkan, “musiman”, seakan-akan itu jawaban, bukan gejala dari manajemen pasok yang belum beres.
Negara tetangga lebih murah, kita perlu jujur pada penyebabnya
Perbandingan dengan negara tetangga menunjukkan perbedaan harga komoditas pangan pokok yang cukup mencolok antara Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, berdasarkan data terbaru PIHPS per 18 Februari 2026, harga telur ayam ras berada di kisaran Rp 32.200 per kilogram, sementara daging ayam ras mencapai Rp 43.100 per kilogram dan daging sapi kualitas I sekitar Rp 146.000 per kilogram.
Di Malaysia, berdasarkan data resmi dari Federal Agricultural Marketing Authority (FAMA), secara rata-rata harga ayam proses (daging ayam siap jual) di pasar Malaysia berada di kisaran RM 8,48 per kilogram atau sekitar Rp 28.000–Rp 30.000 per kilogram, tergantung kurs. Sementara itu, harga telur ayam sekitar RM 9–10 per kilogram atau berkisar Rp 30.000–Rp 34.000 per kilogram. Untuk daging sapi, data pasar Malaysia menunjukkan harga sekitar RM 42–45 per kilogram untuk potongan utama yang umum dijual di supermarket dan pasar, setara kurang lebih Rp 140.000–Rp 150.000 per kilogram tergantung kurs harian.
Angka tersebut relatif sebanding dengan harga daging sapi kualitas I di Indonesia yang telah mencapai Rp 146.000 per kilogram, meningkat dari posisi sebelumnya sekitar Rp 140.000 per kilogram. Dengan demikian, meskipun struktur pasar, subsidi, dan kebijakan tarif berbeda antarnegara, harga telur, ayam potong, dan sapi di Malaysia relatif lebih stabil, bahkan untuk daging sapi berada pada kisaran yang hampir setara dengan harga di Indonesia yang tengah mengalami kenaikan pada awal Ramadhan 2026.
Perbandingan ini seharusnya membuat kita bertanya dengan jujur: kalau Ramadhan datang pada tanggal yang bisa diprediksi, mengapa gejolak harganya sering terasa seperti kejutan?
Program MBG, niat baik yang perlu desain pasok yang rapi
Sejumlah pedagang menilai kenaikan harga tersebut juga tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di berbagai daerah. Permintaan dalam jumlah besar untuk memenuhi suplai dapur penyedia MBG dinilai ikut menyerap pasokan telur dan daging ayam di tingkat distributor, sehingga ruang pasok ke pasar tradisional menjadi lebih terbatas.
Meski demikian, pemerintah menyatakan stok nasional dalam kondisi aman dan kenaikan harga lebih dipengaruhi faktor musiman Ramadhan. Namun di lapangan, tambahan permintaan dari program MBG tetap disebut pedagang sebagai salah satu faktor yang memperketat distribusi dan mendorong harga bergerak naik dalam waktu relatif singkat.
Di sini kritiknya harus tegas, tetapi tetap adil. MBG adalah program yang baik, tetapi program besar tidak boleh berjalan dengan asumsi bahwa pasar eceran akan “menyesuaikan sendiri”. Ketika pembelian dalam volume besar masuk ke jalur pasok yang sama, tekanan paling cepat justru dirasakan pasar tradisional. Stok nasional bisa “aman”, tetapi rumah tangga tetap merasakan mahal, karena yang menentukan belanja harian bukan angka nasional, melainkan ketersediaan dan harga di titik jual terdekat.
Masalah struktural, bukan alasan musiman
Secara struktural, kenaikan harga menjelang Ramadhan memang bukan fenomena baru. Lonjakan permintaan serentak meningkatkan tekanan pada rantai pasok protein hewani. Di sisi lain, biaya produksi peternak masih tinggi, terutama harga pakan yang bergantung pada bahan baku impor seperti jagung dan bungkil kedelai. Fluktuasi nilai tukar, distribusi antardaerah yang belum efisien, hingga potensi penahanan stok menjelang hari besar keagamaan ikut mempersempit ruang pasok.
Faktor cuaca dan siklus produksi ternak, termasuk masa afkir ayam petelur dan keterbatasan populasi sapi potong, menambah kompleksitas persoalan. Kombinasi faktor jangka pendek dan masalah struktural inilah yang membuat kenaikan harga seolah menjadi “ritual tahunan”.
Kalau kita terus menyebutnya ritual, artinya kita juga mengakui bahwa persoalan ini dipelihara oleh kebiasaan lama: perencanaan yang mepet, respons yang reaktif, pengawasan yang muncul setelah gaduh, lalu semua kembali normal sampai siklus berikutnya.
Upaya menstabilkan harga telur dan daging, dari reaktif ke preventif
Dari tahun ke tahun, harga kebutuhan pokok, terutama telur dan daging, saat Ramadhan atau hari raya hampir selalu melonjak. Di sini, peran aktif pemerintah sangat diperlukan. Lalu, apa saja upaya yang bisa dilakukan?
Pertama, pemerintah perlu memperkuat manajemen pasokan jauh sebelum memasuki Ramadhan dan Idul Fitri melalui sistem peringatan dini berbasis data. Integrasi data produksi peternak, stok gudang pendingin (cold storage), distribusi antarwilayah, hingga proyeksi permintaan musiman harus dilakukan secara real time agar potensi defisit bisa terdeteksi lebih awal. Koordinasi antara kementerian teknis, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan, serta asosiasi peternak perlu dipastikan berjalan efektif sehingga intervensi pasar tidak bersifat reaktif, melainkan preventif.
Kedua, stabilisasi harga dapat ditempuh melalui penguatan cadangan pangan pemerintah, khususnya untuk daging ayam, daging sapi, dan telur. Pemerintah dapat menugaskan BUMN pangan untuk menyerap produksi saat harga di tingkat peternak turun, lalu melepaskannya ketika harga mulai melonjak. Skema ini tidak hanya menjaga keseimbangan pasar, tetapi juga melindungi peternak dari anjloknya harga pada periode panen raya. Operasi pasar sebaiknya dilakukan secara terukur dan tepat sasaran di wilayah yang mengalami lonjakan harga signifikan.
Ketiga, pengendalian biaya produksi di tingkat hulu menjadi kunci stabilitas jangka menengah. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan dan keterjangkauan bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil kedelai melalui kebijakan stok penyangga, pengurangan hambatan distribusi antarwilayah, serta kebijakan impor yang fleksibel namun terukur bila produksi domestik tidak mencukupi. Dukungan pembiayaan murah dan insentif bagi peternak kecil juga penting untuk menjaga keberlanjutan populasi ayam petelur, ayam pedaging, dan sapi potong.
Keempat, perbaikan sistem distribusi dan logistik perlu menjadi prioritas, terutama untuk daerah di luar sentra produksi. Ketimpangan harga antarwilayah sering kali dipicu oleh biaya transportasi dan rantai pasok yang panjang. Optimalisasi jalur distribusi, penguatan peran BUMN logistik, serta pemanfaatan transportasi laut dan tol logistik dapat menekan disparitas harga. Transparansi informasi harga di tingkat nasional juga perlu diperluas agar spekulasi dan penahanan stok dapat diminimalkan.
Kelima, pengawasan pasar harus diperketat menjelang dan selama Ramadhan serta Idul Fitri. Pemerintah bersama aparat penegak hukum perlu memastikan tidak terjadi praktik kartel, penimbunan, maupun permainan harga di tingkat distributor dan pedagang besar. Di saat yang sama, komunikasi publik yang jelas mengenai ketersediaan stok dan langkah stabilisasi akan membantu meredam kepanikan konsumen.
Stabilitas harga pangan bukan hanya isu ekonomi, ini menyangkut ketahanan sosial dan daya beli masyarakat luas. Ramadhan seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan kecemasan di depan rak telur dan lapak daging. Jika setiap tahun kita kembali ke titik yang sama, maka yang perlu dikoreksi bukan momennya, melainkan cara kita mengelola pasokan dan distribusi sejak jauh hari.