Zeffa Aprilasani
Independent Researcher
Adis Imam Munandar
Independent Researcher
Hari ini, Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan 32% dalam sekali waktu. Di permukaan, ada pembenar yang kuat: harga minyak dunia melonjak akibat konflik Iran-Israel yang kian memanas sejak Februari 2026. Tapi di balik narasi itu, ada kelas menengah yang tubuhnya sudah lemah dan baru saja mencoba berdiri.
Kebijakan ini bukan terjadi di ruang kosong. Ia jatuh di atas lapisan tekanan yang telah menghimpit kelas menengah selama 18 bulan terakhir: PHK massal di sektor manufaktur, kenaikan pajak perusahaan, inflasi biaya pendidikan, dan meningkatnya ketergantungan pada pinjaman online untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
Pertanyaan besarnya: apakah kenaikan ini bisa dibenarkan sepenuhnya? Dan siapa yang sesungguhnya menanggung bebannya?
Infografis 1 dari 4
Perubahan Harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026

Hanya Pertamax RON 92 dan Green 95 yang mengalami kenaikan; BBM bersubsidi tetap terlindungi
Rincian kenaikan dan konteks kebijakan yang menyertainya
Ini bukan kenaikan pertama dalam 2026. Sebelumnya, Pertamax naik ke Rp12.300 per 1 Maret 2026, dari level Rp11.800. Kenaikan hari ini adalah yang terbesar, dan menjadikan Pertamax sebagai satu-satunya produk non-subsidi yang “tertahan” sejak April, sementara produk lain seperti Dexlite sudah menyesuaikan sejak 18 April 2026.
Pertamina menyebut kenaikan ini sebagai “penyesuaian harga keekonomian” yang tidak terelakkan, mengikuti lonjakan harga minyak mentah dunia. Namun framing teknis itu bertabrakan dengan realitas sosial yang dihadapi jutaan rumah tangga kelas menengah Indonesia hari ini.
Mengapa narasi harga minyak bukan sekadar dalih
Narasi pemerintah soal harga minyak dunia bukan sekadar dalih. Konteks geopolitiknya serius dan terdokumentasi dengan baik.
Serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 memicu eskalasi yang tidak terduga. Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz sejak 5 Maret 2026, jalur vital yang menyuplai sekitar 20% minyak mentah dunia. Sekitar 320 kapal tanker terjebak. Harga minyak Brent melonjak melewati USD100 per barel hanya dalam kurang dari dua pekan, jauh lebih cepat dibanding krisis Ukraina 2022. Pada 9 Maret 2026, harga sempat menyentuh USD119 per barel.
Per pekan pertama Juni 2026, harga Brent masih berada di kisaran USD93–97 per barel, jauh di atas asumsi ICP dalam APBN 2026 sebesar USD70 per barel.
“Setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia sebesar USD1 per barel selama satu tahun anggaran akan menambah defisit APBN sekitar Rp6,80 triliun. Penerimaan bertambah Rp3,50 triliun, tapi belanja naik Rp10,30 triliun.”
— Kajian Dunia Energi atas sensitivitas APBN 2026
Dengan ICP aktual berpotensi rata-rata USD90–100/barel sepanjang 2026, tambahan tekanan fiskal bisa mencapai ratusan triliun rupiah. Inilah mengapa kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi “katup pengaman” yang paling rasional secara teknis, dan paling aman secara politik: ada pembenar eksternal yang sah bernama konflik Timur Tengah.
Membaca lapisan kebijakan di balik timing yang bukan kebetulan
Ada beberapa lapisan di balik timing kebijakan ini yang perlu dibaca secara kritis.
Tiga Lapisan Motif Kebijakan
Lapisan 1
Tekanan Fiskal Asimetris
APBN 2026 dirancang dengan target defisit 2,68% PDB. Di kuartal I 2026, defisit sempat melonjak 140,5% yoy menjadi Rp240,1 triliun, dipicu akselerasi belanja pusat +52,6% sementara penerimaan hanya tumbuh 10,5%. Program makan bergizi gratis menyerap sekitar Rp19 triliun per bulan.
Lapisan 2
Pertamina Sudah “Menahan” Terlalu Lama
Sejumlah produk non-subsidi lain sudah menyesuaikan harga sejak April. Menahan harga Pertamax terus-menerus saat harga keekonomian jauh di atas berarti Pertamina menanggung kerugian yang ujungnya menjadi beban APBN lewat permintaan Penyertaan Modal Negara (PMN).
Lapisan 3
Window of Opportunity Geopolitik
Dengan adanya pembenar eksternal yang kuat, ini adalah momen “paling murah secara politik” untuk menaikkan harga. Kemarahan publik dapat diarahkan ke konflik Iran-Israel, bukan ke kebijakan fiskal dalam negeri. Timing-nya juga terhitung sebelum harga minyak global berpotensi turun seiring sinyal gencatan senjata.
Catatan penting – framing “defisit devisa”:
Data Mei 2026 menunjukkan APBN tidak dalam kondisi kritis: penerimaan pajak tumbuh 22,1% yoy, keseimbangan primer bahkan surplus Rp58,6 triliun. Yang lebih tepat adalah ini soal mencegah tekanan fiskal yang berpotensi membengkak, bukan soal negara kehabisan uang. Bedanya penting dan perlu dipahami publik.
Infografis 2 dari 4
Tekanan Berlapis pada APBN 2026
TEKANAN FISKAL 2026
Mengapa APBN di bawah tekanan?
ICP aktual jauh melampaui asumsi APBN
• Asumsi APBN 2026: USD 70/barel
• ICP aktual Juni 2026: USD 93–97/barel · Puncak Maret: USD 119/barel
Setiap +$1/barel = defisit APBN bertambah Rp6,80 triliun (asimetris)
Defisit Q1 2026 melonjak 140,5% yoy
• Defisit mencapai Rp240,1 triliun — belanja pusat naik 52,6%
• Penerimaan hanya tumbuh 10,5% · MBG: ~Rp19 T/bulan
Per Mei 2026 membaik ke 0,7% PDB, tapi kerentanan struktural tetap ada
Pertamina tidak bisa menahan lebih lama
• Harga keekonomian Pertamax: sekitar Rp16.000-an sejak Maret
• Menjual di Rp12.300 = subsidi siluman yang menjadi beban negara
Produk lain sudah naik sejak 18 April; Pertamax satu-satunya yang tertahan
Tiga faktor ini menjadikan kenaikan BBM non-subsidi tak terhindarkan
Tiga tekanan fiskal yang membuat kenaikan Pertamax menjadi “pilihan rasional” pemerintah
Data menunjukkan kondisi yang jauh lebih rapuh dari yang terlihat
Untuk memahami beratnya kenaikan ini, kita perlu melihat kondisi kelas menengah Indonesia sebelum hari ini. Gambarannya jauh lebih suram dari yang terlihat di permukaan. Ini adalah gambaran polarisasi yang sangat nyata: dua Indonesia yang bergerak ke arah berlawanan dalam satu waktu. Per Februari 2026, kelompok nasabah bersaldo di atas Rp5 miliar, yang hanya 0,2% dari total rekening, menguasai 57,98% total simpanan perbankan, naik dari 54,16% setahun sebelumnya. Sementara itu, data LPS menunjukkan simpanan rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta pada Maret 2026 hanya tumbuh 1,8% secara tahunan, turun tajam dibanding pertumbuhan 4,4% pada Februari dan 6,8% pada periode yang sama tahun lalu.
Infografis 3 dari 4
Kondisi Kelas Menengah Indonesia Sebelum Kenaikan Pertamax
POTRET KELAS MENENGAH
Data Sebelum Kenaikan Pertamax
Jumlah kelas menengah
46,7 juta
orang (2025)
turun dari 57,3 juta pada 2019
Tabungan kelas bawah
−15%
menyusut pada 2026
kelas atas tumbuh +25%
Pertumb. tabungan ≤Rp100 jt
1,8%
yoy per Maret 2026
vs 6,8% setahun lalu
Konsentrasi simpanan
58%
dikuasai saldo >Rp5 miliar
hanya 0,2% rekening
Rata-rata saldo per rekening ≤ Rp100 juta (turun terus)
Sumber: BPS, LPS, Bank Mandiri 2026
Kenaikan Pertamax tidak terasa bagi kelompok atas. Tapi bagi kelas menengah, ini guncangan nyata.
Data kondisi kelas menengah Indonesia sebelum kenaikan Pertamax 10 Juni 2026

Sumber: BPS, LPS, Pertamina Patra Niaga, Mandiri Institute, CORE Indonesia, Kementerian Keuangan RI, 2025-2026.
Data LPS menunjukkan rata-rata saldo per rekening pada kelompok tabungan di bawah Rp100 juta turun tipis dari sekitar Rp2,0 juta (awal 2023) menjadi Rp1,7–1,8 juta (2024–2025). Paradoks yang menyedihkan: jumlah rekening terus bertambah (naik 7,1% yoy per Maret 2026), tapi saldo per orangnya semakin tipis. Bank Mandiri mencatat sinyal pemulihan awal: pertumbuhan simpanan segmen menengah bawah sekitar 3% secara bulanan di awal 2026, didorong pencairan THR dan stabilisasi gaji. Tapi pemulihan ini masih sangat rapuh. Kenaikan Pertamax 32% hari ini berpotensi menghentikan momentum kecil itu di tengah jalan. Titik Feb 2026 menunjukkan lonjakan ke ~4,4% sebelum drop tajam ke 1,8% di Maret. Kelas menengah Indonesia memang sedang menanggung beban paling berat dari berbagai sisi kebijakan secara bersamaan, dan itu adalah masalah nyata yang perlu mendapat perhatian serius dari pembuat kebijakan.
Yang membuat situasi ini berbeda dari kenaikan BBM sebelumnya adalah akumulasi tekanan yang tidak punya jeda. Dalam kurang dari 18 bulan, kelas menengah menghadapi: gelombang PHK manufaktur sepanjang 2025, kenaikan pajak perusahaan ke 22% yang merambat ke harga barang dan jasa, inflasi biaya pendidikan dasar 3,12%, meningkatnya ketergantungan pada pinjaman online untuk menutup kebutuhan sehari-hari, dan kini lonjakan BBM non-subsidi 32%.
Di kota-kota besar Indonesia, pertanyaannya sudah bukan lagi “bagaimana naik kelas,” melainkan “bagaimana bertahan di kelas yang sama.”
Di berbagai kota Indonesia, keluhan paling umum dari kelas menengah kini bukan lagi soal meningkatkan kesejahteraan, melainkan bagaimana mempertahankan standar hidup yang sudah dimiliki. Gaji naik, tapi tabungan stagnan. Pendapatan bertambah, tapi pengeluaran meningkat lebih cepat. Cicilan rumah membebani, biaya kesehatan dan transportasi menggerus pendapatan keluarga. Meningkatnya ketergantungan pada pinjaman online turut mempersempit ruang menabung. Terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal akibat gelombang PHK di sektor manufaktur sepanjang 2025 membuat kondisi keuangan kelas menengah bawah semakin rentan.
Penilaian dari tiga horison waktu
Menilai dampak kebijakan ini secara jujur berarti melihat tiga horison waktu secara berimbang.
Infografis 4 dari 4
Dampak Kenaikan Pertamax: Jangka Pendek, Menengah, dan Struktural
ANALISIS DAMPAK
Kenaikan Pertamax +32%: Dampak Berlapis
Jangka Pendek
Shock Daya Beli
Kenaikan 32% Pertamax memukul 2 segmen: pemilik kendaraan pribadi kelas menengah dan biaya logistik UMKM. Efek lanjutan ke harga barang konsumsi dalam 1–2 bulan ke depan lewat kenaikan ongkos distribusi.
Jangka Menengah
Kontraksi Konsumsi
Kelas menengah adalah motor konsumsi nasional (56–58% PDB). Ketika mereka mengerem belanja ritel, otomotif, dan hiburan, pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang sangat bergantung pada konsumsi akan terdampak nyata.
Risiko Struktural
Percepatan Turun Kelas
Kelas menengah yang sudah “makan tabungan” kini makin terjepit. Rata-rata saldo per rekening ≤100 juta turun dari Rp2,0 jt (2023) ke Rp1,7–1,8 jt (2025). Shock BBM ini bisa memutus siklus pemulihan tabungan yang baru mulai merayap naik di awal 2026.
Risiko Struktural
Tekanan UMKM & PHK
Baru-baru ini pemerintah mengumumkan PPh Badan naik ke 22%, ditambah kini ancaman lonjakan biaya energi yang dapat menekan margin usaha kecil. Sektor manufaktur sudah mencatatkan PHK yang tinggi sepanjang 2025-2026. Kenaikan BBM menambah biaya operasional dan berpotensi memperbesar gelombang PHK berikutnya.
Sumber: BPS, CORE Indonesia, Mandiri Institute, Pertamina 2025–2026
Empat dampak berlapis kenaikan Pertamax yang saling memperkuat satu sama lain
Tiga rekomendasi kebijakan yang absen hari ini
Dari perspektif kebijakan fiskal, ada tiga hal paling krusial yang absen dari kebijakan hari ini:
Pertama, reformulasi targeting subsidi. Dikotomi “subsidi (Pertalite) vs non-subsidi (Pertamax)” sudah tidak mencerminkan realitas kelas ekonomi. Banyak kelas menengah bawah menggunakan kendaraan modern yang mensyaratkan RON 92+ bukan karena mereka kaya, tapi karena kendaraan bekas yang mereka beli memang memerlukannya. Subsidi berbasis jenis BBM harus digeser ke subsidi berbasis pendapatan.
Kedua, insentif menabung untuk kelas menengah. Saat ini tidak ada insentif pajak yang berarti bagi kelas menengah yang menabung aktif. Skema tax relief sederhana untuk penabung dengan saldo tertentu bisa menjadi penyangga tanpa biaya fiskal yang besar.
Ketiga, transparansi formula harga. Publik berhak tahu di angka ICP berapa Pertamina mulai merugi, dan berapa margin yang diambil. Tanpa transparansi ini, setiap kenaikan harga BBM akan selalu terasa seperti kebijakan yang dijatuhkan tiba-tiba, bukan penyesuaian yang terukur dan dapat diantisipasi.
Penilaian akhir yang jujur dan tidak memihak
“Kenaikan Pertamax hari ini bukan terjadi di ruang kosong. Ia jatuh tepat di atas tubuh kelas menengah yang sedang lemah dan baru mencoba bangkit. Justifikasinya secara teknis masuk akal; harga minyak global memang naik dramatis akibat konflik Iran-Israel. Tapi tanpa kompensasi yang terukur, kebijakan ini berpotensi mempercepat erosi kelas menengah Indonesia.”
— Fortasia Research, 10 Juni 2026
Kelas menengah yang mengecil berarti basis pajak yang menyempit, konsumsi domestik yang melemah, dan daya tahan ekonomi nasional yang semakin rapuh. Kebijakan energi tidak bisa dibaca dalam silo; ia harus dibaca sebagai bagian dari pertaruhan besar tentang seperti apa struktur sosial ekonomi Indonesia sepuluh tahun ke depan.
Satu hal yang pasti: kebijakan ini adalah guncangan yang nyata. Dan seperti semua guncangan besar, hasilnya sangat ditentukan oleh ada tidaknya jaring pengaman; sesuatu yang baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan.
Poin-poin utama artikel ini
Tag artikel: