Negara di Ujung Jempol, Karakter Pemuda di Ujung Nurani

Screenshot 2025-12-01 094104

Penulis: Dr Adis Imam Munandar

 

Pemuda digital butuh musuh bersama, ketidakadilan sistemik.

Setiap generasi punya “medan tempur” sendiri. Generasi orang tua kita berjibaku di ruang fisik, di kampus, di pabrik, di jalanan. Pemuda hari ini bertarung di ruang yang tak berbatas, layar 6 inci yang membuat jarak terasa dekat, tetapi juga membuat empati mudah jatuh, patriotisme mudah jadi slogan, dan kegigihan mudah kalah oleh budaya serba instan.

Di era ketika pemuda hidup lebih lama di linimasa daripada di balai desa, pertanyaan besar kita bukan lagi “siapa musuh kita,” melainkan “masalah apa yang harus kita kalahkan bersama, tanpa kehilangan akal sehat dan kemanusiaan.” Di akhir 2025, Kementerian Pemuda dan Olahraga menggelar Simposium Kepemudaan dengan tema, penguatan bela negara, dan penguatan karakter pemuda di Hotel Mercure Jakarta Batavia.

Saya menyebutnya bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai penanda bahwa wacana “karakter pemuda” hari ini sedang dicari bentuknya, termasuk, bagaimana karakter itu diukur sebagai program publik, bukan sekadar jargon seminar.

Dari output, outcome, sampai impact: membangun karakter yang bisa dibuktikan

Dalam logika kebijakan, kita sering mencampuradukkan tiga level hasil:

  • Output: apa yang diproduksi program (kegiatan, modul, platform, komunitas).
  • Outcome: perubahan perilaku, kapasitas, dan praktik (1–3 tahun), bisa diukur.
  • Impact: dampak jangka panjang, pada kita, dan bangsa, misalnya karakter kolektif yang menguat.

Target impact yang diinta jelas dan mulia: pemuda yang Empati, Gigih dan Patriotik. Tantangannya, bagaimana mengubahnya menjadi outcome dan output yang relevan bagi generasi yang “borderless”, dan menghabiskan energi sosial di ruang digital yang algoritmik, cepat tersulut, dan sering membuat kita lebih mudah marah daripada memahami.

Di titik inilah gagasan “musuh bersama” (common enemy) kerap muncul. Banyak negara, secara sadar atau tidak, membangun kohesi sosial lewat ancaman eksternal atau “lawan” yang jelas. Tetapi di Indonesia hari ini, strategi itu berbahaya bila diterjemahkan mentah, apalagi bila “musuh” dipersonifikasikan menjadi kelompok sosial tertentu. Kita tahu ujungnya bisa berupa persekusi, polarisasi, dan pemuda yang merasa heroik saat menghina, bukan saat memperbaiki.

Karena itu, bila kita memakai istilah common enemy, ia harus dimaknai sebagai musuh yang berbentuk masalah publik, bukan manusia, suku, agama, profesi, atau pilihan politik. “Musuh bersama” pemuda yang paling masuk akal, sekaligus paling produktif, adalah kombinasi tiga hal: ketidakadilan prosedural (aturan tidak fair), kesewenang-wenangan (kekuasaan tanpa akuntabilitas), dan manipulasi informasi (disinformasi, propaganda, serta ekonomi atensi). Ini selaras dengan kegelisahan Anda tentang ketidakadilan dan oligarki, namun diarahkan ke problem, bukan ke target sosial.

Social identity theory: kohesi lahir dari kategori, lalu kerja sama, lalu identitas

Social Identity Theory menjelaskan mengapa manusia mudah bersatu, juga mudah bermusuhan. Prosesnya dapat kita baca dalam beberapa tahap:

  1. Social categorization
    Otak kita menyederhanakan dunia: “kita” dan “mereka”. Di dunia maya, kategorisasi ini makin cepat karena tagar, potongan video 30 detik, dan budaya “tim”. Pemuda jadi mudah terseret: tim A vs tim B, kubu ini vs kubu itu.
  2. Social cooperation
    Kategorisasi tidak selalu buruk. Ia menjadi kuat saat ada kerja sama menghadapi persoalan bersama. Kolaborasi memberi pengalaman emosional, “kita bisa menang bersama,” dan pengalaman inilah bahan baku solidaritas.
  3. Social identification
    Setelah berkolaborasi, orang mulai berkata, “saya bagian dari kelompok ini.” Identitas sosial terbentuk karena ada tujuan, narasi, dan pengalaman bersama.
  4. Self identity dan group identity
    Identitas kelompok lalu “masuk ke diri”: apa yang saya banggakan, apa yang saya tolak, apa yang saya anggap pantas. Pada level ini, pemuda bisa berubah dari sekadar pengguna internet menjadi warga digital yang berkarakter.

 

Masalahnya, sering muncul gap tinggi antara identitas dan rules. Identitas pemuda diucapkan sangat ideal, “agent of change”, “generasi emas”, “bela negara”, tetapi aturan main di ruang publik, termasuk ruang digital, sering tidak memberi rasa adil. Ketika rules berubah menjadi sekadar alat kuasa, pemuda mudah sinis, lalu memilih jalan pintas: trolling, doxing, membully, atau menyebar fitnah, semua terasa “benar” karena dilakukan atas nama kelompok.

Jika kita ingin impact Empati, Gigih dan Patriotik, Gigih, kita harus mendesain rules yang membuat empati rasional, patriotisme relevan, dan kegigihan masuk akal. Common enemy yang sehat: “musuh” sebagai masalah, bukan orang.

Karena itu, gagasan “common enemy” perlu dipahami dengan hati-hati. Banyak negara membangun kohesi sosial dengan mengacu pada ancaman eksternal. Korea Selatan, misalnya, memiliki konteks keamanan yang membuat warganya mudah menemukan narasi persatuan menghadapi Korea Utara. Sejumlah negara kota pun kerap hidup dengan perasaan rentan, sehingga ancaman dari luar menjadi lensa ketahanan, entah berupa ancaman ekonomi, geopolitik, atau kompetisi tenaga kerja. Di Barat, naiknya sentimen terhadap imigrasi ilegal sering dibingkai sebagai ancaman pada peluang kerja dan identitas nasional. Contoh-contoh itu menunjukkan satu pelajaran, common enemy dapat mengikat “kita,” tetapi ia juga bisa menjadi racun bila musuhnya dipersonifikasikan menjadi manusia atau kelompok sosial. Ia memupuk kebencian, bukan memperkuat bangsa.

Common enemy yang sehat harus memenuhi tiga syarat:

  • Abstrak tapi konkret: bukan orang, tetapi bisa dirumuskan dalam indikator, misalnya “praktik tidak transparan,” “prosedur tidak adil,” “disinformasi terorganisir,” “korupsi kecil sampai besar,” “kecurangan dalam akses kesempatan.”
  • Mengundang kerja sama lintas kubu: pemuda dari latar belakang berbeda bisa sepakat bahwa ketidakadilan itu merusak semua.
  • Mendorong tindakan konstruktif: bukan mobilisasi kebencian, melainkan mobilisasi perbaikan.

Di sinilah “common interest” lahir: bukan karena kita sama identitasnya, tetapi karena kita sepakat pada standar fair, akuntabel, dan manusiawi. Patriotisme, pada titik ini, bukan slogan, melainkan praktik menjaga Indonesia tetap layak dihuni oleh warganya.

Outcome yang relevan dan terukur.

Berikut tiga outcome (hasil menengah) yang realistis untuk pemuda Indonesia yang aktif di ruang digital, sekaligus terukur:

  1. Kenaikan kualitas empati digital dan etika berdebat. Indikator, skor pre-post pada instrumen empati dan toleransi perbedaan, penurunan konten toksik di komunitas peserta (misal lewat audit konten), peningkatan jumlah percakapan berbasis data (tautan rujukan, klarifikasi, koreksi terbuka).
  2. Naiknya partisipasi kewargaan (civic participation) yang produktif. Indikator, jam relawan terverifikasi, jumlah inisiatif warga (petisi kebijakan berbasis data, advokasi layanan publik, laporan masalah lingkungan, pengawasan anggaran lokal), dan tingkat kolaborasi lintas komunitas.
  3. Menguatnya kegigihan (grit) dalam proyek nyata, bukan sekadar viral. Indikator, tingkat penyelesaian proyek 8–12 minggu, tingkat kelulusan modul, portofolio kerja yang selesai, keberlanjutan komunitas setelah 3–6 bulan, bukan hanya ramai di awal.

Outcome ini mengarah langsung pada impact karakter. Empati jadi kebiasaan berinteraksi, Patriotik jadi kebiasaan menjaga ruang publik, Gigih jadi kebiasaan menyelesaikan pekerjaan.

Output yang relevan dan terukur.

Outcome tidak lahir dari niat saja, ia butuh output. Tiga output yang bisa didesain sebagai program:

  1. Kurikulum “Empati Digital dan Debat Beradab” berbasis praktik. Bentuknya modul mikro (microlearning), studi kasus, latihan menangkal disinformasi, latihan mendengar aktif, dan simulasi konflik. Indikator, jumlah modul, jumlah peserta tuntas, dan nilai kompetensi.
  2. Ruang Kolaborasi Pemuda lintas kota, lintas minat (online-offline). Format hackathon kebijakan, proyek civic-tech, atau laboratorium solusi (misal akses layanan publik, kesehatan mental, lingkungan, anti-penipuan digital). Indikator, jumlah tim, jumlah prototipe, jumlah solusi yang dipakai mitra, dan tingkat replikasi.
  3. Indeks Karakter Pemuda (Empathy, Patriotik, Gigih) yang diukur berkala. bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memperbaiki. Indikator, instrumen survei, dashboard terbuka, pelaporan per komunitas, dan tindak lanjut intervensi yang jelas.

Di sinilah forum seperti Simposium Kepemudaan menjadi relevan, karena tema penguatan karakter pemuda dan bela negara memang membutuhkan bentuk programatik yang bisa dipantau, bukan hanya dipidatokan.

Menutup gap identitas dan rules: dari “bela negara” menjadi “bela fairness”

Akhirnya, pemuda Indonesia membutuhkan “musuh bersama” yang menyatukan tanpa membelah, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan manipulasi informasi. Ini bukan musuh yang harus dibenci, ini musuh yang harus dikalahkan melalui kerja sama dan kepantasan. Dari musuh bersama yang tepat, lahir kepentingan bersama yang sehat. Dari kepentingan bersama yang sehat, lahir kerja sama. Dari kerja sama, lahir identitas kolektif baru, bukan identitas yang gemar melabeli, melainkan identitas yang gemar menyelesaikan. Dan bila itu terjadi, empati, patriotik, dan gigih bukan lagi kata-kata indah di panggung, melainkan karakter pemuda yang terasa dalam cara kita berbicara, cara kita berbeda, dan cara kita merawat Indonesia, baik di jalan raya maupun di ruang digital. Indonesia boleh borderless dalam pergaulan, tetapi tetap harus berakar dalam nurani. Sebab masa depan bangsa bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi kita, melainkan seberapa beradab karakter pemudanya.

 

Catatan:

Output adalah hasil langsung yang terlihat dan bisa dihitung, misalnya modul pelatihan yang dibuat, jumlah peserta, komunitas yang dibentuk, atau prototipe yang dihasilkan.
Outcome adalah perubahan perilaku, kemampuan, atau praktik setelah output dijalankan, misalnya meningkatnya empati digital, naiknya partisipasi warga, atau membaiknya ketahanan pemuda menyelesaikan proyek, biasanya terukur dalam 6–24 bulan.
Impact adalah dampak jangka panjang pada masyarakat dan bangsa, misalnya menguatnya karakter pemuda (Empati, Gigih, Patriotik) yang tercermin pada kualitas ruang publik, menurunnya polarisasi destruktif, dan meningkatnya kohesi sosial.