Beras Fortifikasi dan Bahaya Vonis yang Terlalu Cepat

WhatsApp Image 2026-09-19 at 14.11.02

Oleh: Dr Adis Imam Munandar

Hasil uji bisa menghancurkan reputasi sebelum kebenaran tuntas.

Tahun 2008 pernah memberi Indonesia pelajaran mahal. Ketika krisis melamin merebak dari China, pemerintah bergerak cepat mengamankan produk impor dan mengumumkan hasil pengujian. Langkah itu dapat dipahami karena keselamatan konsumen memang harus didahulukan. Namun, persoalan kemudian menjadi lebih rumit ketika produk dengan nama serupa di negara lain tidak selalu memberikan hasil yang sama dan regulator harus memperjelas kembali produk mana yang sebenarnya menjadi objek temuan. Pelajarannya sederhana: laboratorium menguji sampel, tetapi masyarakat mengingat nama produk.

Hampir dua dekade kemudian, polemik beras fortifikasi menghadirkan risiko serupa. Pemerintah tentu wajib memastikan bahwa beras yang dijual dengan klaim tambahan vitamin dan mineral benar-benar mengandung apa yang dijanjikan. Konsumen tidak boleh membayar lebih mahal untuk klaim gizi yang tidak terbukti. Karena itu, pengawasan harus tegas.

Temuan pemerintah juga serius. Badan Pangan Nasional menyatakan pengawasan telah mencapai 178 sampel di 11 provinsi dan pada salah satu tahap pemeriksaan menyebut 93 persen sampel belum memenuhi persyaratan klaim beras fortifikasi atau beras diperkaya.

Angka 93 persen sangat besar. Justru karena itu, pembuktiannya harus sangat kuat.

Masalahnya bukan hanya apakah angka vitamin atau mineral yang keluar dari laboratorium rendah. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah sampel tersebut benar-benar mewakili produk yang kemudian mendapat konsekuensi di ruang publik, dan apakah pengujiannya dilakukan dengan metode serta ruang lingkup kompetensi yang tepat.

Di sinilah ada dua titik yang perlu dijelaskan lebih terang: sampling dan pengujian laboratorium.

Beras fortifikasi bukan cairan yang sudah tercampur sempurna. Beras biasa dicampur dengan fortified rice kernel atau FRK dalam proporsi relatif kecil. Kernel inilah yang membawa vitamin dan mineral tambahan. Jika distribusinya tidak sepenuhnya merata, bagian berbeda dari satu lot dapat mengandung jumlah FRK yang berbeda pula.

Bayangkan satu teko teh yang gulanya belum benar-benar teraduk. Kita mengambil satu sendok dari bagian atas, mengukurnya dengan alat paling akurat, lalu menyimpulkan seluruh teko kekurangan gula. Alatnya mungkin sangat presisi. Masalahnya, sendok tadi belum tentu mewakili seluruh teko.

Begitu pula dengan beras fortifikasi.

Sampel yang tidak representatif dapat menghasilkan angka yang sangat presisi, tetapi tetap menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Pemerintah sebenarnya telah memahami risiko tersebut. Panduan Teknis Beras Fortifikasi mengatur bahwa sampel diambil berdasarkan lot, dari sejumlah bagian, kemudian digabungkan menjadi sampel komposit dan dihomogenkan sebelum pengujian. Panduan juga menunjukkan pengambilan dari bagian atas, tengah, dan bawah. Acuannya antara lain SNI 19-0428-1998 tentang pengambilan contoh padatan.

Namun, sejauh informasi yang terbuka kepada publik, kita belum melihat secara lengkap nomor lot yang mendasari setiap temuan, jumlah kemasan yang dipilih, jumlah titik pengambilan, proses pembentukan sampel komposit, homogenisasi, penyegelan, sampel simpan, serta chain of custody sampai sampel masuk laboratorium.

Ini tidak membuktikan sampling pemerintah salah. Dokumen tersebut mungkin tersedia dalam berkas pemeriksaan. Namun, begitu hasil pengujian sudah berdampak pada penghentian produksi, penarikan barang, distributor, dan reputasi perusahaan, pembuktian tidak seharusnya berhenti pada kalimat “sampel sudah diambil”.

Yang harus dapat diperlihatkan adalah bahwa sampel itu memang mewakili produk yang menerima konsekuensi.

Acuan samplingnya sendiri juga layak dievaluasi. SNI 19-0428-1998 masih berlaku, tetapi ditetapkan hampir tiga dekade lalu sebagai standar umum pengambilan contoh padatan. Sementara itu, dunia telah mengenal ISO 24333 yang secara khusus mengatur sampling serealia dan produk serealia.

Tidak berarti standar nasional kita salah. Namun, beras fortifikasi mempunyai karakter khusus: distribusi kernel sangat menentukan hasil. Karena itu, pendekatan sampling yang lebih spesifik terhadap serealia layak dipertimbangkan agar hasil pengawasan semakin sulit diperdebatkan.

Persoalan kedua adalah laboratorium.

Kalimat “sudah diuji di laboratorium berakreditasi ISO/IEC 17025” sering terdengar seperti jawaban terakhir. Padahal ISO/IEC 17025 tidak bekerja seperti izin umum untuk menguji segala sesuatu.

Akreditasi mempunyai ruang lingkup.

Sebuah laboratorium dapat kompeten menguji vitamin atau mineral pada satu jenis pangan, tetapi belum tentu pengujian parameter yang sama pada beras fortifikasi dengan metode tertentu berada di dalam ruang lingkup akreditasinya.

Analogi sederhananya, rumah sakit yang memiliki dokter spesialis jantung tidak berarti semua dokter di rumah sakit tersebut adalah ahli jantung.

Karena itu, pertanyaan yang benar bukan hanya “apakah laboratoriumnya sudah ISO 17025?”, melainkan apakah pengujian B1, folat, B12, Fe, dan Zn pada matriks beras fortifikasi dengan metode yang digunakan memang berada dalam ruang lingkup akreditasinya?

Penelusuran terhadap dokumen ruang lingkup beberapa laboratorium yang disebut dalam pemeriksaan menunjukkan situasinya tidak sesederhana label “sudah ISO”. Ada laboratorium yang memiliki kemampuan menguji berbagai vitamin dan mineral, tetapi pada matriks lain. Ada pula ruang lingkup yang mencantumkan beras diperkaya untuk parameter tertentu, tetapi metode yang tercantum tidak identik dengan metode yang secara eksplisit disebut dalam SNI beras fortifikasi.

Apakah itu membuktikan hasilnya salah? Tidak.

Tetapi hal tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa nama besar laboratorium dan sertifikat ISO tidak boleh menggantikan pemeriksaan terhadap ruang lingkup pengujian yang sebenarnya.

Ada persoalan lain yang membuat interpretasi hasil semakin penting. Zat fortifikasi tidak semuanya mengalami perubahan yang sama selama penyimpanan. Penelitian terbaru terhadap beras fortifikasi yang disimpan lebih dari dua tahun menunjukkan vitamin B1 lebih mudah menurun, sedangkan B9, B12, besi, dan seng relatif stabil. Penelitian itu juga menemukan distribusi FRK yang tidak homogen dapat menghasilkan variasi kadar pada sampel.

Pola hasil karena itu bisa berbicara.

Jika B1 turun sementara Fe dan Zn tetap mendekati target, umur dan kondisi penyimpanan patut diperiksa. Namun, bila B1, folat, B12, Fe, dan Zn semuanya turun hampir dalam proporsi yang sama, sulit menjelaskan semuanya sebagai degradasi alami. Besi dan seng tidak rusak seperti vitamin.

Dalam kondisi seperti itu, pertanyaannya justru bergeser: apakah jumlah FRK dalam sampel terlalu sedikit, pencampurannya tidak homogen, terjadi segregasi selama distribusi, atau sampelnya memang tidak representatif?

Karena itu, publik membutuhkan angka, bukan hanya kesimpulan “tidak memenuhi”.

Ada perbedaan besar antara kandungan yang tidak terdeteksi sama sekali, kandungan yang sedikit berada di bawah SNI, dan kandungan yang sebenarnya ada tetapi tidak mencapai klaim pada label. Ketiganya tidak boleh dilebur menjadi pesan yang sama.

Hal yang sama berlaku pada ketidakpastian. Hasil akhir bukan hanya dipengaruhi mesin laboratorium, tetapi juga cara memilih sampel, membaginya, menghomogenkan, menyimpan, dan menyiapkannya untuk dianalisis. Eurachem bahkan menempatkan sampling sebagai bagian dari ketidakpastian ketika hasil hendak digunakan untuk menyimpulkan keadaan suatu lot.

Berikut simulasi sederhana untuk menunjukkan skalanya. Ini bukan estimasi kesalahan pengujian pemerintah, melainkan stress test tentang apa yang dapat terjadi bila beberapa sumber variasi bergerak ke arah yang sama.

Sumber potensi perbedaan

Rendah

Moderat

Tinggi

Sampling dan ketidakhomogenan FRK

3%

8%

15%

Preparasi/pembagian sampel

2%

4%

8%

Variasi analitik laboratorium

3%

5%

10%

Penurunan B1 selama penyimpanan

5%

15%

30%

Penurunan Fe/Zn selama penyimpanan

0–2%

0–5%

5–10%

Ilustrasi perbedaan terukur B1

±12%

±29%

±51%

Ilustrasi perbedaan terukur Fe/Zn

±10%

±20%

±37%

 

Skenario tinggi bukan keadaan normal dan tidak boleh dipakai untuk mengoreksi hasil laboratorium. Pesannya justru lebih sederhana: hasil uji adalah ujung dari sebuah rantai, dan kekuatan rantai ditentukan oleh mata rantai terlemahnya.

Jika hasil berada jauh sekali di bawah standar, variasi beberapa persen mungkin tidak akan mengubah kesimpulan. Tetapi jika hasil hanya sedikit di bawah batas, kualitas sampling, ketidakpastian pengukuran, dan aturan keputusan menjadi sangat penting sebelum suatu produk diputuskan gagal.

Di sinilah pengujian ulang seharusnya dipandang sebagai penguat, bukan ancaman bagi regulator.

Produsen tidak seharusnya bebas mengambil sampelnya sendiri lalu mencari laboratorium yang menghasilkan angka yang diinginkan. Sebaliknya, regulator dan produsen dapat melakukan joint sampling terhadap lot yang sama. Satu sampel komposit yang homogen kemudian dibagi dan disegel untuk regulator, produsen, laboratorium independen, dan sampel simpan.

Jika semua hasil konsisten, temuan pemerintah akan menjadi jauh lebih kuat.

Jika berbeda secara material, penyebabnya dapat ditelusuri sebelum kesimpulan yang lebih luas dijatuhkan.

Inilah arah yang lebih konstruktif. Pengawasan pangan tidak perlu dilunakkan. Justru harus dibuat lebih transparan, lebih modern, dan lebih sulit dibantah.

Buka identitas lot. Jelaskan metode sampling. Buka angka setiap nutrien. Tunjukkan metode pengujiannya. Cocokkan dengan ruang lingkup akreditasinya. Gunakan measurement uncertainty dan decision rule ketika hasil mendekati batas. Sisakan sampel untuk pengujian ulang.

Kalau semua itu terpenuhi dan hasilnya tetap sama, pemerintah tidak perlu berteriak keras. Datanya sendiri sudah cukup berbicara.

Produsen yang terbukti menyesatkan konsumen harus bertanggung jawab. Tetapi produsen yang namanya dipertaruhkan juga berhak dinilai dengan proses yang dapat diuji kembali.

Kita pernah belajar pada 2008 bahwa tuduhan menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi.

Karena itu, prinsipnya seharusnya sederhana: semakin besar daya rusak sebuah pengumuman, semakin tinggi standar bukti yang harus mendahuluinya.

Negara harus tegas.

Namun ketegasan yang paling kuat bukan lahir dari vonis yang paling cepat, melainkan dari bukti yang paling sulit dibantah.

Sebab produk yang bermasalah masih dapat ditarik dari pasar.

Reputasi yang telanjur runtuh jauh lebih sulit dikembalikan.

 

Referensi

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. (2008). Keterangan Pers tentang Isu Produk Cina yang Mengandung Melamin; Keterangan Pers tentang Kandungan Melamin Produk Cina yang Mengandung Susu; dan Ralat Keterangan Pers Kepala Badan POM RI.

Badan Pangan Nasional. (2026). Panduan Teknis Beras Fortifikasi: Keamanan, Mutu, dan Label serta publikasi hasil pengawasan beras fortifikasi.

Badan Standardisasi Nasional. (1998). SNI 19-0428-1998: Petunjuk Pengambilan Contoh Padatan.

International Organization for Standardization. (2009). ISO 24333:2009 Cereals and cereal products — Sampling.

International Organization for Standardization. (2017). ISO/IEC 17025:2017 General requirements for the competence of testing and calibration laboratories.

ILAC. Guidelines on Decision Rules and Statements of Conformity, Measurement Uncertainty in Testing, and Scopes of Accreditation.

Ramsey, M.H., Ellison, S.L.R., & Rostron, P. (Eds.). (2019). Measurement Uncertainty Arising from Sampling: A Guide to Methods and Approaches. Eurachem/EUROLAB/CITAC/Nordtest/AMC.

Rice Science. (2026). Stability of Vitamins and Minerals in Coated and Extruded Fortified Rice Kernels Stored under Real-Life Conditions over Two Years and Implications for Standards.